Tampilkan postingan dengan label Tetralogi Laskar Pelangi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tetralogi Laskar Pelangi. Tampilkan semua postingan

Jumat, Agustus 08, 2008

Sang Pemimpi, aku juga


Orang miskin bukanlah orang yang tidak mempunyai uang, tetapi orang yang tidak pernah memiliki mimpi

Pernah denger pepatah itu? Of course…kemiskinan dan kekayaan seseorang bukan hanya dipatok berdasarkan unsur kekayaan, tetapi masih banyak referensi lain yang menjadi dasar bagi penentuannya.

“Sang Pemimpi” adalah buku kedua dari tetralogi lascar pelangi… dah lama sii bacanya, tapi baru sempet menulis akan rasa dari apa yg kubaca itu sekarang, lum telat kan yey..huhui…biar telat asal selamat deh..lo??hehe..bingung..

Masih menceritakan kelanjutan, uum..tepatnya menceritakan bagian yang hilang dari cerita Laskar Pelangi kemaren, secara tetralogi gitu ya… yups, kehidupan si Ikal sebagai peran utama dan si Arai saudara Ikal yang disebut sebagai Simpai Keramat, julukan Orang Melayu kepada satusatunya sisa orang dari suatu lan, yang mengarungi masamasa sekolah sma mereka di SMA Bukan Main, bagaimana kenakalan mereka, kisah hidup, susah, sedih, senang, juga nakalnya mereka, serta beberapa pelajaran moral dan banyak sekali hikmah yang bisa kita petik. (walaupun kalo tak baca malah kebanyakan cerita si Arai ya…lo??)

Kalo aku harus menceritakan kembali buku itu ga seru kan ya, mending baca sendiri, lebih dalem, dan ambil hikmahnya sesuai dengan keinginanmu sendiri, free ur voice..halah, soundrenaline banget,,,hahahaha,,,mentang2 beso minggu gitu..

Aku mo ngambil beberapa bab yang menurutku lucu dan,,,uum…bagus..menurutku sekali lagi gitu..

Di mozaik Tuhan tahu, tapi menunggu…hahaha...pengen ketawa di kejadian ini. Ini adalah cerita kenakalan si Arai di masa kecilnya yang…mungkin saat itu tidak ada kejadian apa2, tetapi sesuai judul babnya, Arai akan mendapatkan karmanya di buku Edensor besok. Jadi pas kecil si Arai dan Ikal tu nakal. Mereka ga suka ma guru mengaji mereka Taikong Hamim yang antagonis, makanya mereka pengen balas dendam. Nah pas sholat ketika menyebut –amieen- si Arai dengan tidak tumakninah meliuk2an suara menjadi –amiien..mien..mien..mien…- dan sangat keras. Dan tentu ja kalo lagi sholat kan ga ketauan sapa yg melakukan hal itu kan, dan tentu saja dengan bantuan temen2nya yg nutup2in kesalahan Arai karena menerima dengan senang hati tindakannya melakukan perbuatan yang tidak semestinya itu..yah, ternyata Tuhan tahu apa yg dia lakukan, tetapi Tuhan menunggu…siap aja terpingkal2 di buku edensor…hahahaha…

Kayaknya yang adegan mereka kejar2an dengan kepala sekolah sma mereka yang berakir dengan bersembunyi di dalam peti ikan Nyonya Pho juga ntar da balasannya di buku edensor, hahahaha….ada kaitannya dengan teriakan Nyonya Pho pas ngeliatmerekakeluar dari peti ikan…”ikan duyuung…”.

Ada bagian lucu lagi di mozaik bioskop, di mana mereka melakukan strategi agar bisa menonton film bioskop murahan di depan los kontrakan mereka. Karena aturan di sana, kalo anak sekolah ga bole nonton film murahan Indonesia semacam itu. Bagaimana si Arai, Ikal, dan Jimbron menyamar menjadi orang berkerudung dengan menggunakan kerudung sarung yang teramat bau…sungguh anak SMA banget, hahahaha…sampai mereka ketahuan oleh Kepala Sekolah mereka akibat pengaduan dari si tukang jagung baker yang bisa membedakan mana orang berkerudung asli dan jadi2an….hahaha…mpe akirna mereka dihukum di sekolah untuk memperagakan gaya para pemain di film yang mereka tonton kala itu, tentu saja di depan teman2 mereka setelah upacara senin pagi…hahaha…

Selain itu juga di mozaik When I Fall in Love yang nyeritain perjuangan Arai menaklukkan Zakiah Nurmala Binti Berahim Matarum. Arai mpe rela mati2an belajar gitar dengan judul lagu di mozaik ini sama Bang Zaitun , lelaki flamboyan guru kuliah cinta mereka…hahahaha….secara kisah cinta Arai menggambarkan kalimta kedua dari pepatah “Love me or just hate me. But spare me with your indifference”…hahaha…nggambarin kehidupan anak muda Indonesia banget kan, pe bisa ditebak kalo si Arai bakal nyanyiin lagu itu make gitar di depan kamar Nurmala..and u know lah kejadian selanjutnya kalo dah ngerti kalimat kedua pepatah tadi…sakit hati malahan…T_T (lo kok jadi sedih, bingung…)

Seperti di kisah sebelumnya adajuga yang membuat terharu dari buku ini….hehe..hebat ne buku, bisa buat kau tersenyum sekaligus menangis, tertawa saat harus bersedih…ya di mozaik simpai keramat itu aku mampu merasakan itu dari sebagian keseluruhan cerita..si Arai yang ditinggal wafat ibunya sekaligus adiknya ketika kelas satu SD. Dan juga harus kehilangan ayahnya ketika menginjak kelas tiga SD. Bisa dibanyangin ga gimana sedihnya. Aku tulisin satu paragraph yang menceritakan Arai pas dijemput ma Ikal dan bapaknya. “Aku teringat beberapa hari setelah ayahnya meninggal, dengan truk kopra, aku dan ayahku menjemput Arai. Sore itu dia sudah menunggu kami di depan gubuknya, berdiri sendirian di tengah belantara lading tebu yang tak terurus. Anak kecil itu mengapit di ketiaknya kain kecampang berisi beberapa potong pakaian, sajadah, gayung tempurung kelapa, mainan buatan sendiri, dan bingkai plastik murahan berisi foto hitam putih ayah dan ibunya ketika pengantin baru. Sebatang potlot yang kumal ia selipkan di daun telinganya, penggaris kayu yang sudah patah diselipkan dipinggangya. Tangan kirinya menggenggam beberapa buku tak bersampul. Celana dan bajunya dari kain belacu lusuh dengan kancing tak lengkap. Itulah harta bendanya” (Hirata, 2006).

Bisa dibayangin???bahakn seorang Ikal menangis demi melihat kondisinya, tetapi justru Arai yang menghibur Ikal yang menangis dengan mainan buatannya sendiri…jadi..tertawa dalam tangis atau..tangis dalam tawa???yang pasti intinya dalam keadan apapun kita harus tetap tegar dan tabah…harus kuat…^^ dan yang pasti…harus punya mimpi….yah, harta benda terkaya yang tak kan pernah habis…mimpi…

Masuk ke mozaik Baju Safari Ayahku menurutku sangat…wow…gimana bangganya seorang ayah kepada anak2nya bahkan dengan rela cuti 2 hari demi bisa mengambil raport anak mereka yang bersekolah lebih kurang 30 kilometer yang ditempuh dengan bersepeda, dan memakai naju terbaiknya yang bahkan ketika bupati datang pun tidak dipakai, hanya untuk anaknya, baju safari empat saku, kain pemberian orang timah ketika ayah ikal menjadi pegawai tetap di sana. Hiks…. Orang tua yang bener2 bijak menurutku, tidak banyak kata, tiap kata yang beliau ucapkan sesekali mengandung banyak arti…harusnya ortu jaman skr juga gitu ya…ga usah banyak bicara (red: memarahi) tetapi banyaklah memberi contoh…hahaha…curhat…

Juga di mozaik aku ingin membuatnya tersenyum, bakal kamu liat gimana jimbron, sahabat Ikal dan Arai yang ingin membuat bahagia seorang Laksmi dengan kuda, obsesi Jimbron akan kuda sudah melebihi….

Dan mimpi2 Arai dan Ikal akan terwujud dengan penuh perjuangan dan keyakinan, “percaya” akan kekuatan mimpi itu tadi mulai dari mozaik 15 saat mereka pergi ke Jakarta dengan membawa masing2 celengan kuda Jimbron yang berisi tabungannya ketika bekerja sambil sekolah (terharu ^^~)…..

Mereka berjuang dan terus berjuang, dan yakin bisa mewujudkan mimpi itu….

Andai semua manusia mau bermimpi dan berjuang mendapatkan mimpi itu….tentu dunia ini tidak akan sekompleks ini…hahaha…

Ya sudah, karena bingung mo nulis apa lagi, aku mau bermimpi sajah….karena orang miskin harta yang paling berharganya cuman mimpi....asal ga mimpi kali yee....

…hahaha….

Itulah sepenggal kisah sang pemimpi…

Selanjutnya terserah anda..

Jangan bingung ya,,,

Senin, Juli 14, 2008

LinTang....


Laskar Pelangi...
pernah denger pastinya, malah mungkin dah mbaca???hoho..sayang tetralogi terakhir (red: maryamah karpov belum muncul) yang pasti semakin memberi bobot untuk novel2 Indonesia..
ni novel menurutku keren banget, Indonesia banget...sesuai dengan tanggapan2 yang dah tertulis sebelumnya, menceritakan anak2 Indonesia yang sesungguhnya, bener2 mengobati kerinduan akan sebuah novel yang layak dijadikan panutan di tengah maraknya novel2 bertema chicklit or teenlit..emang sii cerita2 semacam itu lucu banget (aku sendiri suka baca juga tu buku2 dan bikin ketawa abis), tetapi kita kan juga butuh sebuah cerita yang mengandung nilai moral, cerdas, dan memiliki unsur intelektual ketika di baca. Nah itu semua terangkum dalam tetralogi Laskar Pelangi.
Cerita sederhana sepuluh anak Belitong yang sekolah di sekolah Muhamadiyahan yang disebut dengan Laskar pelangi karena kecintaan mereka melihat pelangi dari filicium ..hehe...anak2 banget.
Yang patut menjadi teladan adalah kemauan mereka bersekolah, perjuangan mereka dalam menempuh pendidikan. Mereka bahkan sekolah di gudang kopra, dengan deskripsi bentuk yang sangat tidak memungkinkan dan tidak masuk akal digunakan sebagai tempat menuntut ilmu. Bahkan perjuangan akan dimulainya tahun ajaran baru bagi mereka juga merupakan sebuah perjuangan, mengingat sekolah tersebut adalah sekolah swasta miskin dan orang yang sekolah adalah anak2 kalangan orang miskin di mana orang tua mereka lebih memilih menyuruh anak mereka bekerja daripada sekolah.

Dari keseluruhan cerita yang bagus (dan emang bener2 bagus) yang paling menarik buat aku adalah tokoh Lintang (bahkan sampai baca Sang Pemimpi dan Edensor). Banyak pelajaran yang dipetik dari itu semua.
Pertama adalah kemauan kita (niat) kita untuk berangkat menuntut ilmu harus tinggi. Dalam Laskar Pelangi diceritakan kalau Lintang adalah anak tertua dari sebuah desa di Pesisir pantai, sehingga untuk mencapai Sekolah Lintang harus menempuh perjalanan pulang pergi sejauh 80 kilometer dengan melewati sungai, hutan, komunitas buaya dan lain2. Dan itu semua dia tempuh hanya dengan menggunakan sepeda, di mana dia harus melewati banjir setinggi dada ketika musim hujan, melalui jalanan dengan panas yang tak terkira ketika musim kemarau, dan harus berjalan kaki menuntun sepeda ketika jalanan tanjakan dan ketika rantai spedanya lepas. Sepeda itulah harta benda satu2nya di keluarganya yang paling berharga. Sekarang bandingkan dengan anak2 muda jaman sekarang yang hanya berjarak sekian kilometer dari sekolah aja malah suka membolos, bahkan mereka difasilitasi sepeda motor bahkan mobil. Dan perlu diketahui Lintang tidak pernah membolos barang satu haripun, dia berangkat sejak subuh agar dapat sampi sekolah tepat waktu (bahkan sering yang paling pagi) dan pulang sampai rumah bisa malam hari.
Kedua adalah mencari ilmu di sekolah harus benar2 dilakukan dengan sepenuh hati. Mereka anak-anak Muhamadiyahan yang bahkan tak bisa membeli buku satupun dengan semnagat tinggi teteap melanjutkan perjuangan sekolah dengan menggunakan fasilitas peminjaman buku secara bergilir oleh Kepala Sekolahnya. sedangkan kita yang bisa beli buku sesukanya malah menghambur2kan tanpa dibaca.
Ketiga yaitu kita tidak hanya belajar tentang hidup hanya dari bangku sekolah saja, tetapi juga dari seseorang di luar sekolah yang bahkan tidak pernah bersekolah, seperti Ikal yang belajar tentang hidup dari Bodenga. Istilahnya The University of Life..
Keempat itu...tidak terungkapkan dengan kata2. pokonya setelah melihat tulisanku di atas terserah anda bagaimana mengungkapkannya sendiri. Toh yang dapat memetik pelajaran dari sebuah buku bisa berbeda tiap orangnya, beda kepala gitu loh...Kata orang2 ekonomi tu, persepsi konsumen berbeda2, sesuai dengan faktor yang mempengaruhinya...(???).

Yang membuat aku sedih dan membuat aku tidak setuju hanya satu, kenapa kisah akhir dari Lintang hanya menjadi sopir truk pasir di PN Timah????bahkan dia tidak menyelesaikan SMP nya yang ujian EBTANASnya hanya tinggal 4 bulan...(entahlah ada kelanjutan atau tidak di Maryamah Karpov). Yang pasti aku sangat menyayangkan kondisi seperti itu, dan mungkin itulah realita yang terjadi di Indonesia, anak yang super Genius seperti Lintang harus berakhir nasibnya di tempat hunian supir truk pasir.
Bayangkan saja ketika masih duduk di bangku SD intelegensianya jauh melampaui teman2nya, ketika teman2nya baru bisa mencongak, dia sudah pintar membagi angka desimal, menghitung akar, dan menemukan pangkat, lalu juga menghubungkan dengan tabel logaritma. Ketika naik SMP teman2nya masih pusing dengan urusan memetakan absis dan ordinat pada produk cartesius dalam topik relasi himpunan sebagai dasar fungsi linier, Lintang sudah mengutak-utik materi untuk kelas yang jauh lebih tinggi seperti implikasi, biimplikasi, filosofi pascal, binomial Newton, limit, diferensial, integral, teori peluang dan vektor. Ketika teman2nya baru menguasai binomial, Lintang bahkan sudah beranjak ke pengetahuan tentang aturan multinomial dan teknik ekspoitasi polinomial, mengobrakabrik pertidaksamaan eksponensial, mengilustrasikan grafik sinus, dan membuat pembuktian matematika menggunakan fungsi trigonometri dan menggunakan aturan ruang tiga dimensi...hufff....bisa dibayangkan..itu baru kelas satu SMP..Seandainya saja dia bersekolah di Jogja mungkin dia sudah memasuki kelas akselerasi khusus, dan sekarang yang menyandang nama profesor termuda di dunia bukan ALia Sabur melainkan Lintang Samudra Basara bin Syahbani Maulana Basara....dari Indonesia....

yaaah....itulah hidup...
kita tidak bisa memaksakan suatu kejadian sesuai dengan keinginan kita...
tetapi percaya saja bahwa Rencana Tuhan Selalu yang Paling Indah,,,
mungkin itu adalah kebutuhan terbaik untuk Lintang (agar dapat menghidupi keluarganya sejak ayahnya meninggal di detik2 menjelang EBTANAS SMP)....

buat yang belum pernah baca, aku sarankan untuk membacanya, bener2 buku yang bikin kita mensyukuri hidup, Indonesia's most p0werful book...

Lah kok malah jadi ngelantur..jadi bingung,,,hehehe...pisss...